Rabu, 18 Mei 2011

Goresan pena

KAPAL KARAM
fully rakhmyanti


Tersiar kapal kecil berlayar
Di lautan
Luas juga kejam
Layar, tak lagi berkembang
Lubang besar robek karnanya

Penunggangnya tentulah Si renta
Yang terus memainkan senar dengan setia
Berroda ombak, bertongkat tombak
Menghantam karang tersudut jurang

Terhempas, hanyut, dan terdampar
Tergulung-gulung
Terhuyun-huyun
Kembung air ditambah garam

Rangka Si renta tak lagi menapak
Melayang lunglai dan terkapar



LAKUKAN APA MAUMU
oleh Fully rakhmayanti

Tak perlu lagi kau repot banting tulang
Kalau miskin masih tak mau pergi meneduhi kita

Tak perlu lagi kau pelihara hutang
Jikalau lintah itu masih beruang

Tak perlu lagi kau pergi ke ladang
Jika hama, wereng, dan bala-kurawanya
Tak juga bosan
makan jatah kita

Sungguh kau tak perlu lagi lakukan semua itu
Lakukanlah apa maumu
Agarkau selalu bersamaku
Membina biduk
Yang hampir karam


SYAIR SAKRAL
Fully rakhmayanti

Diri berdiri tegap
Menatap cacing yang sakit terinjak
Mulut tak henti berdendang
Syair sakral berisi harap
Berharap agar ampun segera datang

Jiwa hitam tersirat di muka
Iblis datang berraut ceria
Merayu diri yang tak tau arah

Perlahan
Syair sakral jadi di hati

Iblis kaget tapi tak mati

Buah iman dan jaga hati
berkat dan rahmat
Terkunci di sanubari

Selasa, 08 Maret 2011

Renungan Semanggi

Matahari kala itu tak memberi ampun pada semanggi
semanggi Layu, tapi tetap bertahan
Ia rela sejenak melayukan daun-daunnya yang anggun
demi bertahan hidup,
sembari menanti hujan dari langit

Tapi langit kala itu sedang murka
murka pada penguasa bumi
semanggi merenung
semanggi terus merenung
Sementara hewan-hewan yang tegap berdiri dengan kedua kakinya
dengan leluasa terus memonopoli bumi

Semanggi tetap merenung
ia terus tumbuh menjalar bersama asa
ia tetap berdiri tegap ditempatnya
semanggi tengadah
ia coba menantang masa
menantang kejamnya dunia dan penguasanya