KAPAL KARAM
fully rakhmyanti
Tersiar kapal kecil berlayar
Di lautan
Luas juga kejam
Layar, tak lagi berkembang
Lubang besar robek karnanya
Penunggangnya tentulah Si renta
Yang terus memainkan senar dengan setia
Berroda ombak, bertongkat tombak
Menghantam karang tersudut jurang
Terhempas, hanyut, dan terdampar
Tergulung-gulung
Terhuyun-huyun
Kembung air ditambah garam
Rangka Si renta tak lagi menapak
Melayang lunglai dan terkapar
LAKUKAN APA MAUMU
oleh Fully rakhmayanti
Tak perlu lagi kau repot banting tulang
Kalau miskin masih tak mau pergi meneduhi kita
Tak perlu lagi kau pelihara hutang
Jikalau lintah itu masih beruang
Tak perlu lagi kau pergi ke ladang
Jika hama, wereng, dan bala-kurawanya
Tak juga bosan
makan jatah kita
Sungguh kau tak perlu lagi lakukan semua itu
Lakukanlah apa maumu
Agarkau selalu bersamaku
Membina biduk
Yang hampir karam
SYAIR SAKRAL
Fully rakhmayanti
Diri berdiri tegap
Menatap cacing yang sakit terinjak
Mulut tak henti berdendang
Syair sakral berisi harap
Berharap agar ampun segera datang
Jiwa hitam tersirat di muka
Iblis datang berraut ceria
Merayu diri yang tak tau arah
Perlahan
Syair sakral jadi di hati
Iblis kaget tapi tak mati
Buah iman dan jaga hati
berkat dan rahmat
Terkunci di sanubari
Rabu, 18 Mei 2011
Selasa, 08 Maret 2011
Renungan Semanggi
Matahari kala itu tak memberi ampun pada semanggi
semanggi Layu, tapi tetap bertahan
Ia rela sejenak melayukan daun-daunnya yang anggun
demi bertahan hidup,
sembari menanti hujan dari langit
Tapi langit kala itu sedang murka
murka pada penguasa bumi
semanggi merenung
semanggi terus merenung
Sementara hewan-hewan yang tegap berdiri dengan kedua kakinya
dengan leluasa terus memonopoli bumi
Semanggi tetap merenung
ia terus tumbuh menjalar bersama asa
ia tetap berdiri tegap ditempatnya
semanggi tengadah
ia coba menantang masa
menantang kejamnya dunia dan penguasanya
semanggi Layu, tapi tetap bertahan
Ia rela sejenak melayukan daun-daunnya yang anggun
demi bertahan hidup,
sembari menanti hujan dari langit
Tapi langit kala itu sedang murka
murka pada penguasa bumi
semanggi merenung
semanggi terus merenung
Sementara hewan-hewan yang tegap berdiri dengan kedua kakinya
dengan leluasa terus memonopoli bumi
Semanggi tetap merenung
ia terus tumbuh menjalar bersama asa
ia tetap berdiri tegap ditempatnya
semanggi tengadah
ia coba menantang masa
menantang kejamnya dunia dan penguasanya
Langganan:
Postingan (Atom)