Matahari kala itu tak memberi ampun pada semanggi
semanggi Layu, tapi tetap bertahan
Ia rela sejenak melayukan daun-daunnya yang anggun
demi bertahan hidup,
sembari menanti hujan dari langit
Tapi langit kala itu sedang murka
murka pada penguasa bumi
semanggi merenung
semanggi terus merenung
Sementara hewan-hewan yang tegap berdiri dengan kedua kakinya
dengan leluasa terus memonopoli bumi
Semanggi tetap merenung
ia terus tumbuh menjalar bersama asa
ia tetap berdiri tegap ditempatnya
semanggi tengadah
ia coba menantang masa
menantang kejamnya dunia dan penguasanya